Yogyakarta, SAWIT INDONESIA — AKPY-STIPER menilai kegiatan Bintalfisdis (Pembinaan Mental Fisik dan Disiplin) memiliki peran strategis dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum menjalani program magang di perusahaan perkebunan dan industri sawit. Kegiatan tersebut juga melibatkan pelatih dari Denhanud 474 Kopasgat untuk memperkuat pembinaan disiplin, mental, dan kerja sama tim mahasiswa.
Kegiatan bintalfisdis AKPY-STIPER sesi II dilakukan kurang lebih sepekan diikuti seluruh mahasiswa AKPY-STIPER jenjang Diploma I (Prodi Pemeliharaan dan Pembibitan) sebelum keberangkatan magang ke perusahaan-perusahaan sawit, yang dijadwalkan keberangkatan secara bertahap pada 24 Mei 2026. Sedangkan, sesi I telah dijalankan saat mahasiswa baru masuk sebelum proses pembelajaran Tahun Akademik 2025/2026 di kampus.
Wakil Direktur AKPY-STIPER, Dr. Idum Satia Santi, SP, MP, mengatakan bahwa Bintalfisdis bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja nyata.
“Lingkungan kerja di sektor perkebunan memiliki tantangan tersendiri, mulai dari disiplin kerja tinggi, tekanan target operasional, hingga kondisi lapangan yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kesiapan yang matang sebelum terjun ke perusahaan mitra magang,” katanya saat ditemui di AKPY-STIPER, pada Rabu (13 Mei 2026).
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di kampus, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan budaya kerja industri, memiliki etika profesional, disiplin, dan daya tahan kerja di lapangan,” imbuh Dr. Idum.
Lebih lanjut ia menjelaskan, melalui kegiatan Bintalfisdis, mahasiswa dilatih untuk membangun mental tangguh, meningkatkan etos kerja, memperkuat kerja sama tim, serta membiasakan diri menghadapi tantangan dunia industri sejak dini. Kehadiran pelatih dari Denhanud 474 Kopasgat dinilai memberikan nilai tambah dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan mahasiswa.
Selain itu, kegiatan fisik yang diberikan juga menjadi bagian penting dalam membangun stamina dan kesiapan mahasiswa menghadapi aktivitas operasional di kebun maupun pabrik yang memiliki mobilitas tinggi.
Dr. Idum menambahkan, industri sawit saat ini tidak hanya membutuhkan SDM yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki soft skills seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, integritas, problem solving, dan kemampuan beradaptasi.
“Keberhasilan mahasiswa saat magang sering kali tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh sikap, kedisiplinan, dan kemampuan mereka bekerja dalam tim,” katanya.
Ia menilai pelaksanaan Bintalfisdis juga menjadi bentuk keseriusan AKPY-STIPER dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja dan sesuai kebutuhan industri. Hal tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan perusahaan mitra terhadap lulusan kampus.
Ke depan, AKPY-STIPER akan terus berupaya pengembangan program (bintalfisdis) secara berkelanjutan agar materi pembinaan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern, termasuk penguatan komunikasi profesional dan manajemen stres mahasiswa.
“Bintalfisdis dikemas secara modern dan relevan dengan kebutuhan industri agar benar-benar mampu mencetak lulusan yang adaptif, tangguh, dan profesional,” pungkas Dr. Idum.
Sumber : Sawit Indonesia